Minggu, 07 April 2013

Bunglon

     Hewan yang satu ini manis, atraktif, dan sifat luar biasa lainnya adalah dia mampu menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan di sekitarnya. Gue kali ini akan membahas tentang bunglon dan sifatnya yang sama seperti manusia. 
     Di suatu malam yang absurd, random, dan desperate abis, gue sedang bertelepon ria sama sahabat gue yang sepertinya agak senang kalau gue sebutkan namanya di posting gue kali ini, tapi gue malas menyebutkannya karena nanti mungkin dia ga akan bisa tidur semalaman karena kepedean, tetapii karena gue menghormati dia yang udah bisa bikin gue berpikir lebih jernih malam itu, yaudahlah yaaa gue sebutin aja, namanya Tebe. Yap, panjang juga sih namanya, tetapi gue lebih sering memanggilnya dengan sebutan itu. Sahabat SMA yang masih sering bermain bersama walau kadang pikiran gue dan pikiran dia kurang koheren karena pikirannya dia udah jauh level nya diatas gue, entah. Di saat teleponan yang udah hampir gak ada topik, tiba-tiba entah obrolan apa yang membuat gue teringat seseorang. Dengan suara yang hampir hilang, serak-serak becek, gue nanya sama dia dengan nada yang sedikit berjengit 
     "Lo bilang tadi kalau  orang bisa berubah karena banyak faktor, di satu sisi gue suka dia banyak temen, lingkungan yang baik, tetapi sikapnya jadi berubah sama gue mungkin karena..mereka? How do you think? " Tanya gue, ada helaan nafas panjang yang ia atur, mungkin ia sedang berpikir.
     "Yeah, itu cuma masa. Dia memilih sahabat barunya, mungkin dia lebih nyaman disitu. Bukan berarti lo buat dia gak nyaman ya, sekarang gue ibaratkan aja dia seekor bunglon." Katanya dengan tegas. Gue bisa membaca raut wajahnya ketika mulai berbicara serius sama gue, just like a doctor with his patient and i getting diagnosed . Gue gak berkomentar, hanya berdeham kecil untuk menandakan gue masih ada di seberang teleponnya. Kemudian ia melanjutkan..
     "Sekarang anggaplah lo sebagai pohon mangga dan sahabat barunya adalah pohon jati. Kalau dilihat dari struktur daunnya, memang kedua pohon itu memiliki kesamaan bila dilihat dari jauh, dari jauh loh ya. Ketika si bunglon yang terbiasa menyesuaikan diri di daun mangga kemudian ia hinggap lagi ke daun jati, jelas banget dia akan merasakan perubahan dan penyesuaian dirinya yang signifikan. Karena memang dari dekat kedua pohon itu tak pernah sama. Analogi nya sih seperti itu. Si bunglon jelas akan terasa nyaman di daun jati yang kenyataannya  lebih lebar dari pada daun mangga." Jelas nya sekali lagi. Kali ini gue terdiam, gue berpikir sejenak, berusaha mencerna analogi yang sepertinya memang sangat pas buat gue. Batin gue terusik,  menimbulkan pertanyaan baru di benak gue. 
     "Am i was so small than them ? For many years together but then he prefer to his friends that even he knew for months ! That is all fair enough for me?. "  Tutur gue yang sedikit menitikkan air mata. 
Orang yang di seberang berdeham untuk memperbaiki suaranya dan kembali menjawab pertanyaan gue.
     "Yaudah sabar, mungkin sekarang dia lagi menikmati hidup nya di daun jati. Bukan berarti dia melupakan daun mangga yang pernah dia tinggali dulu." Jelas nya
     "Terus apa si bunglon bakal balik lagi ke daun mangga? enggak kan? Sesuatu yang sudah membuat dia nyaman, gak bakal mungkin lah bakal mau balik lagi menjadi seperti yang dulu." Cecar gue.
     " Who knows ? let god answer all of your questions . Tetapi, gue punya jawaban sendiri . Si bunglon bisa aja balik lagi ke daun mangga yang dulu pernah ia tinggali. Lo gak tahu kan kalau suatu saat apa yang terjadi dengan pohon jati ? mungkin disana terjadi gempa atau apapun lah yang membuat goncangan dan akhirnya mengharuskan Si bunglon balik lagi ke pohon mangga yang suasananya masih tentram, damai, dan mungkin lagi berbunga." Kata-kata dia yang terakhir membuat gue lega, lega akan suatu kemungkinan bahwa Si bunglon akan kembali ke daun mangga nya. Lalu Ia melanjutkan kata-katanya yang kemudian membuat jantung gue mencelos lebih jauh.
     "Tapi apa lo rela hanya dijadikan tempat persinggahan ? Seperti bom atom Hiroshima-Nagasaki di Jepang yang meluluh lantakkan semua kehidupan di dalamnya, dan akhirnya dia bisa bangkit dan lebih maju kan ? sekarang siapa coba orang yang gak mau kesana ?. Kita gak tahu kan tentang pohon jati yang mungkin aja tumbuh lagi dengan lebih indah? bunglon mana yang gak mau hinggap di sana ? si bunglon juga pasti akan balik lagi ke daun jati itu. Apa lo rela jadi tempat penampungan sakit-sakitnya Si bunglon aja ? lo yang ngobatin dia waktu dia kena sesuatu di pohon jati, terus setelah sembuh dia balik lagi dengan seiring pertumbuhan daun jati yang makin subur. Rela ?" Rela kah ? 
     "Lo gak pernah sadar bahwa di luar sana masih banyak bunglon-bunglon lain yang lebih indah warna kulitnya di banding bunglon itu. Yang bisa menerima apa adanya daun mangga dan setia berada disitu. Lo selalu lupa dengan hal itu." Oh ya? bunglon lain . Gue menciptakan hening yang cukup lama, lagi lagi meneteskan beberapa tetes air mata dan kemudian tertawa kecil.
     "Ya gue ga bisa ngomong apa-apa lagi. Kayak nya apa yang lo analogi kan malam ini seratus persen kena.  Gue cukup menunggu bunglon lain datang dan bersedia menerima daun mangga ini apa adanya. Yang menerima daun mangga ini kadang dihinggapi ulat kecil, yang kadang berlubang dimakan sengatan matahari, dan seluruh sifat nya." Tutur gue yang sepertinya malam ini diberi banyak pencerahan.
     "Yap, sepertinya lo sudah belajar banyak. Cukup jalanin aja sekarang apa yang ada di depan mata lo. Masa lalu gak harus dilupakan kok, masa lalu hanya tempat untuk kita belajar untuk tidak lagi mengulangi perbuatan yang sama." 
     Sekiranya itu mungkin yang gue bahas malam itu sama sahabat yang kadang bisa gila bareng, yang waktu kelas sepuluh dikenal dengan kepala nya yang selalu geleng-geleng, dan sekarang bisa dengan gagah memakai almamater kuning dengan makara putih di dada kirinya. Intinya gue belajar banyak malam itu, banyak banget. 
     Untuk bunglon yang pernah hinggap dan tinggal di daun mangga untuk beberapa tahun lama nya, semoga kehidupan baru di daun jati tetap lancar dan tetap semangat menghadapi cobaan yang ada di suatu saat nanti.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar